PRODUK KERAJINAN

Kabupaten Serdang Bedagai

Bisa dikatakan seluruh bagian pohon kelapa bernilai guna, selain buah, daun dan batang, lidi atau tulang daun kelapa juga bisa diolah menjadi kerajinan bernilai ekonomis. Tentunya bisa menambah penghasilan keluarga.

Mari kita lihat limbah lidi sawit. Ternyata limbah satu ini tidak hanya bisa diolah menjadi sapu atau tusuk sate saja. Lidi atau tulang daun kelapa itu juga bisa disulap menjadi kerajinan menarik yang unik dan diminati konsumen di pasar domestik maupun internasional. Tentunya dengan dukungan dari pemerintah daerah, karena umumnya perajin limbah lidi sawit berdomisili di kawasan perkebunan yang jauh dari kawasan perkotaan.

Untuk membuat kerajinan menarik dari lidi sawit butuh ketekunan dan sentuhan kreativitas serta kesabaran, seperti yang dilakukan Juarni dan suaminya Aminuddin Sijabat, warga Desa Silau Rakyat, Kecamatan Sei Rampah, Kabupaten Serdang Bedagai. Dengan modal limbah lidi kelapa sawit dan varnish, Juarni mengubah lidi sawit menjadi aneka kerajinan anyaman nan unik.

Disela-sela kesibukannya sebagai ibu rumah tangga, Juarni bersama Aminuddin Sijabat yang juga Sekretaris Desa Silau Rakyat mengolah lidi menjadi aneka bentuk sovenir, seperti piring tempat buah, parcel, mangkok nasi bahkan lampu hias “aladin” yang sangat unik. “Saat ini, kami masih fokus produksi aneka piring oval dan tempat buah, sesekali juga membuat lampu “aladin” sesuai pesanan yang ada,” terang Juarni didampingi suaminya Aminudin Sijabat saat ditemui MedanBisnis di kediamannya, Ahad lalu.

Meski terbilang baru terjun dalam dunia kerajinan limbah lidi sawit tersebut, namun Juarni mengaku optimis usahanya itu bisa berkembang. Dia berharap, selain mampu menambah pendapatan rumah tangga, kedepan juga mampu menyerap tenaga kerja. “Daripada nganggur selepas mengurus rumah tangga, kan lebih baik menganyam lidi sawit, jadi lidi sawit ini tidak hanya melulu digunakan sebagai sapu saja,” katanya.

Menurut Juarni, untuk menekuni kerajinan anyaman lidi sawit tersebut tidak sulit hanya dibutuhkan ketekunan dan kesabaran serta sentuhan kreatifitas. “Saat pertama belajar menganyam lidi sawit ini memang dibutuhkan kesabaran dan ketekunan, pertama belajar membuat memang semua ujung jari pada sakit bahkan terluka tapi kelamaan sudah terbiasa, dalam satu hari bisa membuat lima buah anyaman piring oval dan tempat nasi yang dikerjain sendiri tanpa bantuan orang lain,” jelasnya.

Saat ini katanya, anyaman lidi sawit yang diproduksi masih sebatas pesanan saja, sambil menambah-nambah koleksi produksi agar tidak kelabakan disaat pesanan datang. “Pemasaran saat ini hanya sebatas pesanan dari pelanggan saja, umumnya para pegawai di kantor Pemkab Sergai, sedangkan untuk pemasaran keluar kami sebatas dari mulut ke mulut. Memang sesekali pernah juga diajak untuk melatih menganyam dari dinas perindustrian setempat,” katanya.

Masih menurut Juarni lagi, harga aneka produk olahannya pun cukup terjangkau. “Untuk produksi aneka piring dan tempat parcel harganya cukup terjangkau bagi konsumen yakni sekitar Rp 10.000 saja, sedangkan anyaman lampu gantung harganya sekitar Rp 300 ribu lengkap dengan bola lampu, harganya sedikit mahal karena cara membuatnya cukup rumit,” terangnya.

Dia menjelaskan, setiap unit tempat buah (oval), dibutuhkan 100 batang lidi sedangkan dalam 1 kg batang lidi bisa untuk membuat tiga buah aneka bentuk anyaman. Proses pengerjaan anyaman lidi sawit juga tergolong sederhana, setelah batang lidi dipisahkan dari daunnya, segera dibuat anyaman sebelum lidi sawit mengering, sebab jika lidi sawit kering, akan susah dibentuk. Lalu setelah kering baru di cat varnish agar mengkilap. “Warnanya juga bisa disesuaikan dengan keinginan pesanan, tapi untuk warna dasar tetap menggunakan cat varnish,” ungkap Aminuddin Sijabat.

Saat ini pasangan Juarni dan Aminuddin Sijabat berharap kerajinan menganyam limbah lidi sawit mereka mendapat perhatian dukungan dari pemerintah setempat khususnya Pemkab Sergai agar bisa menambah penghasilan keluarga dan mampu menyerap lapangan kerja baru.